Rabu, 25 Mei 2016

SKL - Gejala Alam Biotik dan Abiotik

Zvezda Estrella
Gejala Alam Biotik dan Abiotik

Dalam Lingkungan yang kita tinggali ini terdapat dua komponen yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Masing dari kedua komponen tersebut dapat dibedakan dengan sangat mudah.


Komponen Biotik dan Abiotik

Penguin adalah contoh komponen biotik, sedangkan batu adalah contoh komponen abiotik


Komponen Biotik

Komponen biotik adalah komponen alam yang terdiri atas makhluk hidup.
contoh : manusia, hewan, tumbuhan, jamur, termasuk mikroorganisme.

- Menurut perannya dalam ekosistem, komponen biotik dikelompokkan menjadi produsen, konsumen dan pengurai/dekomposer.
- Berdasarkan cara memperoleh makanan, dikelompokkan menjadi autotrof (membuat makanan sendiri(berfotosintesis)) dan heterotrof (tidak mampu membuat makanan sendiri)


Komponen Abiotik

Komponen Abiotik adalah komponen yang terdiri atas benda tak hidup.
contoh : air, batu, tanah, bukit, gunung dll.



Gejala Alam Biotik dan Abiotik

Bebek yang berkembang biak dan memiliki anak adalah contoh gejala biotik, sedangkan terjadinya
geyser adalah contoh gejala abiotik
Gejala Alam Biotik

- Gejala alam biotik adalah segala peristiwa atau perubahan alam yang berkaitan dengan makhluk hidup.

- Pada peristiwanya dapat kita amati terdapat makhluk hidup serta ciri-cirinya. Misal makhluk hidup yang berkembang biak, tumbuh, ataupun membutuhkan makanan.

- Contoh gejala alam biotik : meningkatnya populasi padi karena menurunnya hama.


Gejala Alam Abiotik

- Gejala alam abiotik adalah segala peristiwa atau perubahan pada alam karena adanya perubahan pada komponen abiotik (tanpa pengaruh makhluk hidup).

- Pada peristiwa nya dapat dilihat perubahan tertentu pada suatu komponen abiotik misal berubah posisinya, bentuknya, wujudnya, suhunya, warna dll.

- Contoh gejala alam abiotik : terjadinya angin darat dan angin laut, 



Latihan Soal SKL Gejala Alam Biotik dan Abiotik


5 soal beserta kunci jawaban dan penjelasannya




BeraniUN.com, Semarang (25/5)

Selasa, 24 Mei 2016

Perlukah Diadakannya Ujian Nasional?

Zvezda Estrella
BeraniUN.com - Ujian Nasional seringkali menjadi momok menakutkan bagi pelajar di seluruh Indonesia. Bukan karena tanpa alasan, hal tersebut dikarenakan ujian yang satu ini sering disebut-sebut kuncinya masuk ke jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Padahal saat ini Ujian Nasional bukan lagi satu-satunya kunci kelulusan. Sudah tahukah Anda akan hal itu? Ya, benar sekali, kebijakan mengenai Ujian Nasional sudah lebih dilunakkan agar tidak menjadi suatu beban yang amat berat bagi para pelajar.

LJK
Pro dan Kontra Ujian Nasional

Ujian Nasional seringkali menjadi perdebatan publik akan perlu tidaknya ujian tersebut. Memang banyak sisi baik dan buruknya. Banyak juga pihak yang pro dan kontra terhadap Ujian Nasional. Mencolok memang sisi buruknya, yaitu menghasilkan sebuah tekanan dan depresi bagi pelajar. Depresi terlalu berlebihan ini seringkali bepengaruh pada menurunnya kesehatan fisik dan mental seseorang. Tak heran bila terkadang beberapa hari sebelum menempuh Ujian Nasional siswa lebih mudah terserang penyakit yang umumnya tifus dan DBD.

Apalagi tekanan tersebut bertambah karena adanya persaingan perorangan maupun persaingan antar sekolah yang ingin menjadi yang terbaik. Tentunya ini menjadi beban tambahan bagi para pelajar karena beberapa sekolah menuntut muridnya untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah mereka.

Alasan lainnya, Ujian Nasional yang diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia ini memakan dana yang terbilang cukup besar. Seperti yang dikutip dari okezone.com, penyelenggaraan 
Ujian Nasional menelan biaya Rp. 560.000.000.000,00 (560 miliar) pada tahun 2015 yang diikuti oleh 7,6 juta siswa. Jumlah yang cukup membuat kita menelan ludah jika hanya untuk pelaksanaan sebuah ujian yang sekaligus memberikan tekanan bagi siswa.

"Dana yang digunakan untuk UN menurut saya bisa digunakan untuk hal yang lebih penting, misal untuk menambah dana anggaran pendidikan. Kan bisa untuk membantu teman kita yang tidak mampu sekolah." ungkap Salma Nabila, siswi kelas 9 SMPN 9 Semarang.

Aspek ekonomi masyarakat juga tak ketinggalan menjadi salah satu alasan tidak perlunya Ujian Nasional. Dibutuhkannya berbagai buku-buku materi ujian nasional menuntut orang tua mengeluarkan isi kantongnya cukup dalam. Buktinya, kebanyakan siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional paling tidaknya memegang sebuah buku persiapan UN yang harganya puluhan ribu rupiah. Siswa juga dituntut untuk memiliki seperangkat alat tulis lengkap untuk mengerjakan ujian. Pada sebagian siswa lainnya memilih untuk belajar di bimbingan belajar yang mematok biaya cukup mahal. Berbagai hal tersebut tentunya seringkali menjadi keluhan para orang tua yang hidup sederhana.

Jauh berbeda dari sisi lainnya, pihak yang pro dengan Ujian Nasional juga memiliki alasan mereka sendiri. Alasan pertamanya, sisi baik dari ujian ini adalah mampu membuat siswa mengulang pembelajaran dari kelas sebelumnya yang mungkin sudah mulai terlupakan. Sehingga saat siswa tersebut menamatkan suatu jenjang pendidikan ia masih mengantongi garis besar pembelajaran yang ia terima semasa itu. Dengan adanya UN, siswa menjadi lebih fokus dalam waktu beberapa bulan untuk lebih giat dan serius dalam belajar. 

Alasan lainnya, Ujian Nasional ini adalah sarana penyeleksian untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya. Ujian Nasional ini juga menjadi tolok ukur kemampuan siswa untuk tahu seberapa banyak ia mempelajari materi yang diserapnya. Diluar semua alasan tadi, faktanya di seluruh dunia sudah ada 42 negara termasuk beberapa negara maju yang sukses meningkatkan pendidikannya dengan sistem ujian seperti ini. Sehingga mungkin UN tidak peru dipermasalahkan.

Menurut opini saya, sebaiknya penentu kelulusan siswa diambil dari seluruh aspek-aspek pendidikan yang ada mulai dari ia awal memasuki suatu jenjang dan direkam penilaiannya selama beberapa tahun. Sehingga kelulusan tidak hanya ditentukan oleh sebuah ujian yang berlangsung selama beberapa menit saja. Misalpun Ujian Nasional tetap dijalankan, alangkah baiknya orang tua dan guru tidak memberikan image menakutkan pada Ujian Nasional melainkan membuatnya menjadi sesuatu yang penting namun santai.


Semarang (24/5) 

References : Okezone.com, wulieokti.blogspot.co.id, syamsul-najib-kh.blogspot.co.id

Translate